Abstract Orange Spirals

Kamis, 21 Januari 2010

Tokoh Seni Lukis Indonesia

Nama :

Affandi

Lahir :

Cirebon, Jawa Barat

1907

Wafat :

23 Mei 1990

Pendidikan :

HIS,

MULO,

AMS,

Karier :

Pelukis,

Pengajar Seni Lukis di AkademiSeni Rupa Yogyakarta (ASRI)

Penghargaan :

Piagam Anugrah Seni dariDepartemen Pendidikan danKebudayaan (1969),

Doctor Honoris Causa dariUniversity of Singapore (1974),

Dark Hammarsjoeld dariInternational Peace Price (Florence, Italy, 1997),

Bintang Jasa Utama (1978),

Julukan Pelukis EkspressionisBaru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune,

Gelar Grand Maestro diFlorence, Italia.

Pameran Pameran :

Museum of Modern Art

(Rio De Janeiro, Brazil, 1966),

East West Center,

(Honolulu, 1988),

Festival of Indonesia

(USA 1990-1992),

Gate Foundation,

(Amsterdam, Holland, 1993),

Singapore Art Museum (1994), Centre for Stategic and International Studies

(Jakarta, 1996),

Indonesia Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo,1997)

ASEAN Master Works,

(Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1998-1999)

Pameran keliling di berbagaikota di India,

Pameran di Benua Eropa, Benua Amerika, Austalia


Affandi adalah salah satu putera dari pasangan Koesoema dan ibu Ladjem sebagai isteri kedua, lahir di Cirebon

1907,tanggal, hari dan bulannya tidak diketahui dengan persis.Mulai melukis sejak masa sekolah dan ditekuni

dengan sungguh-sungguh mulai tahun 1934 dengan cara belajar sendiri.Pameran pertama kalinya dilakukan di

Gedung Poetra di Jakarta tahun 1943 (poesat tenaga rakyat) yang dipimpin olehempat serangkai : Ir. Soekarno,

Mohammad Hatta, Ki hajar Dewantara, dan Kiyai Haji Mas Mansyur. Antara tahun1945-1947 Affandi aktif

membuat poster perjuangan untuk membangkitkan perlawanan rakyat terhadap kaumkolonialisme Belanda yang

ingin menjajah kembali Indonesia.Pada periode tahun 1949-1951, ia mendapat grant dari pemerintah India dan

tinggal di sana selama dua tahun sambilmelukis serta mengadakan pameran keliling kota besar di India. Pada

periode tahun 1951-1977, ia mengadakan pameran keliling di negara Eropa. Kemudian ditunjuk oleh pemerintah

Republik Indonesia sebagai wakil Indonesia dalam pameranInternasional di Brazili dan Venezia tahun 1954, ia

memenangkan hadiah kemudian di San Paolo. Pada tahun 1957, iamendapat grant dari pemerintah Amerika

Serikat untuk mempelajari metode pendidikan seni serta tinggal di sana selamaempat bulan, sempat pula

mengadakan pameran tunggal di WorldHouseGallery, NewYork, Amerika Serikat.Pada tahun 1962, ia

menjadi guru besar kehormatan dalam mata kuliah ilmu seni lukis di Ohio State University Columbia,

Ohio, Amerika Serikat. Pada tahun 1969, ia menerima anugerah seni dan medali emas dari Menteri Pendidikan

danKebudayaan Republik Indonesia, kemudian diangkat menjadi anggota kehormatan untuk seumur hidup

pada AkademiJakarta. Pada tahun yang sama, ia dipilih selama masa tiga tahun menjadi ketuaIAPA

(InternationalArtPlasticAssociation) untuk Indonesia, IAPA adalah badan international di bawah naungan

Unesco. Pada tahun 1973, ia ditunjukoleh pemerintah Indonesia untuk mewakili dalam pameran Bienalle di

Sydney, Australia.

Menerima gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dariUniversity of Singapore pada tahun 1974, kemudian di

tahun1977, ia menerima hadiah perdamaian International dariYayasan Dag Hammerskoeld serta menerima

gelar Grand Maestro di Gedung San Marzano Florence, Italia. Kemudiania diangkat menjadi anggota hak-hak

azasi manusia dariKomite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI diCastello San Marzano

Florence, Italia. Sekembalinya darisana, ia mendapat undangan dari Raja Arab Saudi sekaliannaik haji bersama

istrinya, Maryati.



Pada Agustus 1978, ia menerima penghargaan piagam tanda kehormatan Bintang Jasa Utama”dari Presiden

RepublikIndonesia atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa Indonesia dalam suatu bidang

atau peristiwa tertentu.Pada 1984 bulan September, mendapat undangan dari Konsul Jendral RI di Houston,

Texas, Amerika Serikat, untukpameran bersama tiga pelukis besar Indonesia : Affandi, S. Sudjojono, dan

Basuki Abdullah. Pada 1986, ia diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun Institut Seni Indonesia (ISI)

Yogyakarta. Tahun 1987, iamengadakan pameran tunggal pada ulang tahun yang ke-80 sekaligus merupakan

peresmian penggunaan gedung pameranseni rupa milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang terletak

di jalan Medan Merdeka Timur, Gambir Jakarta. Sejak itu kesehatan Affandi mulai sering terganggu dan

kehadirannya pada pembukaan pamerannya sudah menggunakankursi roda karena tak mampu berjalan sendiri

Kendati demikian, semangatnya melukis tak kunjung surut. Diamendemostrasikan cara melukis potret diri yang

tenggelam di pusaran tujuh mata hari, karya itu dihadiahkan kepadaPemerintah RI melalui Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan yang diterima oleh Prof. Dr. Fuad Hassan.

Kemudian disusul mendapat penghargaan melalui Badan Koordinasi Kesenian NasionalIndonesia(BKKNI) yangpenyerahannya dilakukan di Istana negara oleh Bapak Presiden Soeharto. Affandi saat itu menggunakan kursi roda karenakesehatannya semakin menurun saja. Peristiwa ini berlanjut dengan dibangunnya Museum Affandi, yang terletak di sisi kali Gajah Wong Yogyakarta dan sempat ditinjau oleh Presiden Soeharto bersama tamu negara dari Malaysia Dr. MahathirMohammad. Koleksi yang dipamerkan dalam ulang tahunnya yang ke-80 terdapat sebuah karya

dengan obyek seekorayam jantan mati kerena korban sabungan, dengan dibubuhi tulisan yang berbunyi

1987, mati. Maka telah menimbulkanberbagai tafsiran dari pengunjungkolektor serta pengamat seni rupa

pada saat itu. Menurut pengamatan paham sebagian orang jawa hingga saat ini, lukisan tersebut merupakan

pertanda mati suri”bagi sipembuatnya (pelukisnya). Makna seperti ini hanya dapat dimaklumi oleh kaum yang

terbatas yaitu mereka yang mampumembaca simbol visual yang sangat sensitive. Mengikuti kenyataannya

memang keadaan fisik Affandi terus menurun keluar masuk rumah sakit, berlarut berkepanjangan lebih dari satu

tahun telah kehilangan kemampuan untuk berkomunikasidengan siapapun. Bahkan bernafas maupun makan

melalui alat bantu. Ooh……….. betapa dalam serta menghujamnya rasaduka bagi siapapun yang sempat

berkunjung, bagaimana pula keluarga dekat serta anak isterinya yang setiap harimenunggu serta merawatnya tak

tertanggungkan kiranya.

Maestro Seni Lukis

Affandi


Dullah

Nama :

Dullah

Lahir :

Solo, JawaTengah,

17 September 1919

Profesi :

Pelukis danpenulis

Karya Buku :

Lukisan-lukisankoleksi DR. Ir.Soekarno,PresidenRI,

sebayak 4jilid diterbitkandiRRCtahun1956

dan 1961, Ukiran-ukiranrakyatIndonesiakoleksi

DR. Ir.SoekarnoPresidenRI,diterbitkandi RRC

tahun 1961, Karyadalampeperangandanrevolusi,

diterbitkandiIndonesiatahun1982.


Suatu hari di akhir tahun 1979, pelukis Affandi menjemur

seorang muridnya di Pejeng, Bali, tatkala matahari

menyengat. Murid yang sudah berusia 60 tahun itu, Dullah,

tak berani membantah. Apalagi protes.

Affandi lagi kerajingan membuat rekonstruksi poster

besarnya di zaman perjuangan, berjudul Boeng

Ajo Boeng, yang pernah dianggap sebagai poster perjuangan

pertama yang dibuat orang disini.

Dullah dikenal sebagai seorang pelukis realis. Corak lukisannya

realistik. Mempunyai kegemaran melukis

portrait (wajah) dan komposisi-komposisi yang menampilkan

banyak orang (group). Diakui sebagai guru

melukisnya adalah dua orang pelukis kenamaan ; S. Sudjojono

dan Affandi. Meskipun demikian corak

lukisannya tidak pernah mempunyai persamaan dengan dua

orang gurunya. Pernah dikenal sebagai pelukis istana selama

10 tahun sejak awal tahun 1950-an, dengan tugas khas

memperbaiki lukisan-lukisan yang rusak dan penyusun buku

koleksi lukisan Presiden Soekarno. Dullah juga dikenal sebagai

pelukis revolusi, karena dalam karya-karyanya banyak

mengetengahkan tema-tema perjuangan selama masa

mempertahankan kemerdekaan.

Pada waktu perang kemerdekaan II, saat Yogyakarta

diduduki oleh tentara Belanda pada

19 Desember 1949 hingga 29 Juni 1950, Dullah memimpin

anak didiknya yang masih belum berumur 17

tahun untuk melukis langsung peristiwa-peristiwa selama

pendudukan Yogyakarta sebagai usaha

pendokumentasian sejarah perjuangan bangsa. Lukisan-lukisan

yang dihasilkan ketika itu diulas di

surat-surat kabar bahkan oleh Affandi dinilai sebagai karya

satu-satunya di dunia.

Dullah merupakan salah seorang pelukis realis yang jarang berpameran. Tapi pamerannya bersama anak-anaknya di Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogya) tahun 1978, berhasil menarik puluhan ribu orang. Meskipun pameran diperpanjang satu hari, pintu gerbang Gedung Agung bagian Utara sempat pula jebol. Pameran itu dilanjutkan 20 Desember 1979 hingga 2 Januari 1980, di Aldiron Plaza, Jakarta. Banyak orang kecewa karena ia tak menjual lukisannya.

Menenun, Cat minyak diatas kanvas, 90 x 12 cm




Baginya melukis adalah media untuk berkomunikasi dengan

masyarakat. Dullah termasuk pendiri Himpunan

Budaya Surakarta (HBS). Kemudian didirikannya sebuah

sanggar di Pejeng, Bali. Pada setiap pameran baik

didalam atau diluar negeri, karya murid-muridnya ikut disertakan

. Ia juga menulis sajak. Beberapa sajaknya

dimuat dalam bunga rampai sastra Indonesia yang di himpun oleh

H.B Jassin. Pernah diterjemahkan ke dalam

bahasa Inggris dan terbit dalam sebuah kumpulan di Pakistan.

Sebuah puisinya yang berjudul Anak

Rakyat ditulis tahun 1943 dan dimuat dalam Gema Tanah Air,

barangkali sudah mengisyaratkan

kegandrungannya kepada tema perjuangan dalam lukisan-

lukisannya. Dullah mendirikan museum pribadi di

Solo pada tahun 70-an, dan hingga kini museum tersebut masih

representatif dan dikelola oleh pemerintah

Kotamadya Surakarta. Banyak lukisan-lukisannya yang menjadi

koleksi pejabat-pejabat penting pemerintahan baik dalam

maupun luar negeri, tokoh masayarakat

dan orang terkemuka, diantaranya Presiden pertama RI

Soekarno, Wakil Presiden pertama RI

Muhammad Hatta, Adam Malik, mantan Presiden Amerika

Serikat Eisenhower, mantan Wakil Presiden

Amerika Serikat Walter Mondale, mantan Perdana Menteri

Australia Rudolf Menzies dan museum seni lukis

di Ceko. Dilahirkan pada 11 Juni 1918 di Bandung, Jawa

Barat. Ia beruntung karena sempat sempat masuk

sekolah dan belajarmelukis pada Wahdi, seorang pelukis

pemandangan. DariWahdi, ia banyak menggali

pengetahuan tentangmelukis.Kegiatannya bukan hanya

melukis semata,tetapi pada waktu senggang ia

menceburkan diri pada grup sandiwara Sundasebagai

pelukis dekor. Daripengalaman itulah, ia mengasah

kemampuannya.Pertemuannya dengan Affandi merupakan

fase dan sumber inspirasi jalanhidupnya untuk

menjadi seorang pelukis. Dengandidasari niat yang tulus dan

besar, ia memberanikan diri melangkah maju.

Bermodalkanpensil, kertas, kanvasdan cat ia mulaiberkarya.

Komunitas dari pergaulannya ikutmendukung dan

terusmendorongnya untuk berkembang. Keberaniannya terlihat

ketika iamembentukSanggar Pusaka Sunda

pada tahun 1940-an bersama pelukis Bandung danpernah

beberapa kalimengadakan pameran bersama.

Revolusipun pecah, Hendra ikut berjuang. Baginya antara melukis

dan berjuangsama pentingnya.

Pengalamannya di frontperjuangan banyak memberi inspirasi

baginya.Dari sinilah lahir karya-karyalukisan

Hendra yang revolusioner.LukisanPengantin Revolusi, disebut

-sebut sebagai karya empudengan

ukurankanvas yang besar, tematik yang menarik dan warna

yang menggugah semangatjuang.Nuansa

kerakyatan menjadi fokus dalam pemaparan lukisannya.

Dagang Ayam(1978), 95 x 146 cm

Pada tahun 1947, iamendirikansanggarPelukis

Rakyatbersamatemannya,Affandi. Dari

sanggarinibanyakmelahirkanpelukis yang

cukupdiperhitungkan sepertiFajarSidikdan

G.Sidharta. Selainmelukis,mematungjuga

merupakan bagiandarikesehariannya.Hasilnya,

patungbatuJenderalSudirman dihalamangedung

DPRD Yogyakarta.

Baginya melukis adalah media untuk berkomunikasi dengan

masyarakat. Dullah termasuk pendiri Himpunan

Budaya Surakarta (HBS). Kemudian didirikannya sebuah

sanggar di Pejeng, Bali. Pada setiap pameran baik

didalam atau diluar negeri, karya murid-muridnya ikut

disertakan. Ia juga menulis sajak. Beberapa sajaknya

dimuat dalam bunga rampai sastra Indonesia yang di himpun oleh

H.B Jassin. Pernah diterjemahkan ke dalam bahasa

dan terbit dalam sebuah kumpulan di Pakistan.

Sebuah puisinya yang berjudul Anak Rakyat ditulis

tahun 1943 Inggris dan dimuat dalam Gema Tanah Air,

barangkali sudah mengisyaratkan kegandrungannya kepada

tema perjuangan dalam lukisan-lukisannya.

Dullah mendirikan museum pribadi di Solo pada tahun 70-an,

dan hingga kini museum tersebut masih

representatif dan dikelola oleh pemerintah Kotamadya Surakarta.

Banyak lukisan-lukisannya yang menjadi koleksi pejabat-pejabat

penting pemerintahan baik dalam

maupun luar negeri, tokoh masayarakat dan orang terkemuka,

diantaranya Presiden pertama RI Soekarno

, Wakil Presiden pertama RI Muhammad Hatta, Adam Malik,

mantan Presiden Amerika Serikat Eisenhower, mantan Wakil

Presiden Amerika Serikat Walter Mondale, mantan Perdana

Menteri Australia Rudolf Menzies dan museum seni lukis di

Ceko.Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang pelukis,

tetapi ia juga dikenal sebagai pejuang, pemikir dan organisatoris. Di kalangan

rekan-rekannya, ia dikenal sebagai pelukis yang konsisten dengan

suara panggilan nuraninya, meskipun pada waktu ada boom seni

lukis, ia tidak bergeming dalam memilih apa yang sudah dipilihnya.

Ia dibesarkan dari keluarga mapan. Ayahnya, Hoesen Adimihardja

asal Purwakarta adalah seorang pegawai negeri yang bekerja

pada jawatan pengairan. Awal mula ia menyukai dunia seni

lukis adalah saat ia bersekolah di HIS (HolandscheInlandsche School).

Pelajaran menggambarnya cukup menonjol. Begitu juga ketika ia

meneruskanstudinya di Sihan Gakko.

Seperti anak-anak lainnya, saat ia belum merasa tertarik untuk menekuni

seni lukis. Apa yang dilakukannya hanya karena ada pelajaran

menggambar. Tetapi lama-kelamaan, ia mulai tergerak ketika ia

melongok di Keimin Bunka Sidhoso sebuah lembaga kesenian yang

didirikan oleh pemerintah Jepang. Ia mulai tertarik dan ikut bergabung,

pada waktu itu usianya baru 15 tahun.

Di tempat itu, ia mulai merasakan ada sesuatu yang perlu dan patut

dikembangkan. Ia mulai berpikir untuk terjun ke dunia seni lukis. Abas Alibasyah lalu bergaul dengan pelukis lainnya seperti Hendra Gunawan, Barli Sasmitawinata dan Affandi. Mereka banyak memberi pengaruh terhadap dirinya. Dari sanalah kemudian Abas mulai menetapkan langkahnya menjadi seorang pelukis.


Abas Alibasyah

Nama :

Alibasyah Natapriyatna

Lahir :

Purwakarta, Jawa Barat,

11 Maret 1928

Pendidikan :

HIS,

Sihan Gakko,

SMA BOPKRI,

ASRI

Karier :

Pamong Taman Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta,

Guru SMA Stella Deuce dan SMA Negeri III B

(Padmanaba)Yogyakarta, Dosen IKIP

(Yogyakarta) dan dosen UGM,

Direktur ASRI (Yogyakarta) dan ASKI

(Surakarta), Ketua Sekolah Tinggi Seni Rupa

Indonesia (Yogyakarta), Sekretaris Direktorat

Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan

dan Kebudayaan, Kepala Lembaga Musikologi

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,

Inspektur Kebudayaan Departemen Pendidikan

dan Kebudayaan, Anggota Konsorsium Seni

Ditjen Dikti,

Anggota Badan Sensor Film, Anggota Dewan Film,

Ketua Dewan Kesenian Yogyakarta.

Penghargaan :

Anugerah Seni tahun 80-an dari pemerintah,

Penghargaan dari DKJ untuk lukisan terbaik pada Biennale I,

Lempad Prize dari Yayasan lempad Bali,

Penghargaan dari ISI Yogyakarta untuk pengabdian dalam dalam pendidikan seni,

Culural Award Scheme dari pemerintah Australia,

Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah RI


Bukit-Bukit Harapan (100 X 180 cm)

Setelah Jepang kalah perang tahun 1945. Ia tidak hanya berdiam dan menekuni dunia lukis saja. Keaktifannya dimedanperang juga ikut mempengaruhi cara berfikir dalam menempuh strategi dalam menatap masa depannya.

Sepak terjangnya di SMA BOPKRI membuatnya lebih bersemangat dalam menentukan pilihan hidupnya dalam dunia seni lukis.Karena situasi pada waktu masih dalam kondisi perang, ia banyak membuat sketsa-sketsa revolusi atau kejuangan yang dapat mengalahkan penjajah. Disitulah Abbas mulai tertarik dan bergabung di sanggar Pelukis Rakyat bersama Hendra Gunawan dan Affandi di Yogyakarta

Begitu banyak jabatan yang pernah dipikulnya, dan banyak pula penghargaan yang diraihnya, termasuk pameran lukisan diberbagai belahan dunia sudah pernah dilakoninya. Penghargaan seni yang pernah diraihnya adalah Anugerah Seni dari pemerintah tahun 80-an, penghargaan dari DKJ, penghargaan Lempad Prize dari Yayasan Lempad Bali, Cultural Award Scheme dari pemerintah Australia dan Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah RI. Hingga kini Abas Alibasyah tak pernah berhenti bekerja dan berkarya.

Abas Alibasyah saat ini tinggal di Jakarta, di komplek P&K Cipete Jakarta Selatan dan masih terus produktif melukis.
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar