Abstract Orange Spirals

Kamis, 28 Januari 2010

Surealisme

Surealisme adalah gerakan budaya yang berawal tahun 1920an dan terkenal karena karya visual serta tulisan dari anggota kelompok tersebut. Ciri karya surealis ialah adanya kejutan (element of surprise), kombinasi unik dan non sequitur. Banyak seniman surealis yang menyebut karya mereka—pertama dan utama—sebagai ekspresi gerakan filosofis. Bahkan André Breton, ketua gerakan, secara eksplisit menyebutkan surealisme merupakan gerakan revoulusioner. Berawal dari dadaisme di masa Perang Dunia I, Surealisme dibentuk dengan pusat gerakan di Paris. Sejak tahun 1920an, surealisme menyebar ke seluruh dunia hingga pada akhirnya muncul di layar lebar, antara lain di film “Angel’s Egg” dan “El Topo”.

Pendanaan Gerakan Perang Dunia I menyebabkan para seniman dan penulis yang semula terkumpul di Paris berpencar. Selama berada di luar Paris, mereka tergabung dalam gerakan Dada yang percaya bahwa pikiran rasional serta nilai borjuis yang berlebihan akan mengakibatkan konflik mengerikan di dunia. Para Dadais memprotes pertemuan, pertunjukan, tulisan, serta karya seni yang menolak seni anti-rasional. Dadaisme masih berlanjut hingga perang usai dan mereka telah kembali ke Paris. Selama masa perang, André Breton yang terlatih di bidang pengobatan dan psikiatri, bekerja di rumah sakit neurologi dimana dia menggunakan metode psikoanalisis Sigmund Freud pada para tentara yang mengalami shell-shock. Dia juga bertemu dengan penulis muda, Jacques Vaché, dan merasa bahwa dia adalah “anak” dari Alfred Jarry, seorang pataphysician. Breton sangat memuja sikap anti sosial dan ejekan-ejekannya pada tradisi artistik terkenal di masa itu.

Breton bahkan menulis, “Dalam sastra, saya sukses bekerja sama dengan Rimbaud, Jarry, Apollinaire, Nounveau, dan Lautréamont. Namun pada Jacques Vaché-lah saya paling banyak berterimakasih.” Ketika kembali ke Paris, Breton bergabung dengan gerakan Dadaisme dan membuat jurnal sastra Littérature bersama dengan Louis Aragon dan Philippe Sopault. Mereka mulai berekperimen dengan tulisan otomatis, yaitu tulisan yang dibuat tanpa menyensor pikiran si penulis, lalu mempublikasikannya berikut tulisan tentang mimpi dalam jurnal mereka. Breton dan Soupault lebih dalam mengekplorasi otomatisme dan menulis novel berjudul “The Magnetic Fields” (Les Champs Maqnétiques) tahun 1920. Mereka terus menggunakan otomatisme serta mengumpulkan lebih banyak seniman dan penulis ke dalam kelompok mereka. Mereka mulai percaya bahwa otomatisme adalah taktik lebih jitu bagi perubahan sosial jika dibandingkan dengan serangan langsung Dada pada nilai-nilai yang berlaku. Selain Breton, Aragon dan Soupault, seniman surealis lain meliputi Paul Éluard, Benjamin Péret, René Crevel, Robert Desnos, Jacques Baron, Max Morise, Marcel Noll, Pierre Naville, Roger Vitrac, Simone Breton, Gala Éluard, Max Ernst, Man Ray, Hans Arp, Georges Malkine, Michel Leiris, Georges Limbour, Antonin Artaud, Raymond Queneau, André Masson, Joan Miró, Marcel Duchamp, Jacques Prévert dan Yves Tanguy.

Sementara Dadaisme menolak kategori dan label, Surealisme menganggap penting ekspresi ilustratif sederhana—asal pengaturannya harus terbuka pada batas imajinasi sesuai dengan Dialektika Hegel. Mereka juga merujuk dialektika Marxis dan karya pencetus teori lain seperti Walter Benjamin dan Herbert Marcuse. Karya Freud mengenai asosiasi bebas, analisis mimpi, dan kesadaran tersembunyi merupakan aspek terpenting bagi para surealis dalam mengembangkan metode membebaskan imajinasi. Meskipun menerima ketidakbiasaan (idiosyncrasy), mereka menolak ide kegilaan terselubung atau kegelapan pikiran. Salvador Dalí, seorang idiosinkratik, berkata demikian: “Satu hal yang membedakan saya dan orang gila adalah saya tidak gila.”

Kelompok surealis bertujuan memperbaharui pengalaman manusia, meliputi aspek individu, budaya, sosial dan politik, dengan membebaskan manusia dari apa yang mereka lihat sebagai rasionalitas palsu, kebiasaan (custom) dan pola (structure) terbatas. Breton mengumumkan bahwa tujuan sejati surealisme adalah revolusi sosial. Pada batas ini, surealisme dapat disejajarkan dengan komunisme dan anarkisme. Tahun 1924 mereka mengumumkan rencana dan pemikiran mereka dengan dipublikasikannya Manifesto Surealis Pertama. Di tahun yang sama mereka mendirikan Biro Penelitian Surealis dan mulai mempublikasikan jurnal La Révolution surréaliste.

Manifesto Surealis Dalam Manifesto edisi tahun 1924 (edisi lain terbit 1929), Breton menjelaskan tujuan-tujuan kelompok mereka termasuk kutipan mengenai aspek yang mempengaruhi Surealisme, contoh karya surealis, serta diskusi mengenai otomatisme surealis. Dia mendefinisikan surealisme sebagai:

Makna kamus: Surealisme, kb, otomatisme psikis alami yang digunakan manusia untuk mengekspresikan fungsi sejati pikiran dengan cara verbal, tertulis atau cara lain. Pendiktean pikiran dalam ketiadaan kontrol nalar, lepas dari semua permasalahan moral dan estetis.

Dalam ensiklopedia: Surealisme. Filsafat. Surealisme didasarkan atas kepercayaan pada realitas superior dari bentuk-bentuk tertentu yang muncul dari asosiasi yang diacuhkan, dalam kedigdayaan mimpi, dalam permainan pikiran obyektif. Faham ini cenderung merusak mekanisme psikis lain dan menggantikan fungsinya dalam menyelesaikan permasalahan utama kehidupan.

Definisi Lain Istilah bahasa Inggris “surrealism” merupakan hasil salah-terjemah dari kata bahasa Prancis “surréalisme”. Padanan yang tepat untuk kata bahasa Prancis itu seharusnya “superrealism” (realisme super). Breton pernah mengatakan bahwa “surréel (surreal: ketidakbiasaan, ed.) muncul karena reel (real: realitas; kebiasaan, ed.) sebagaimana surnaturel (sur+natural: alam supra, ed.) ada karena naturel (natural: alam, ed.).” Penutur bahasa Inggris menyebutnya “supernatural” (Ind: supranatural). Yang menjadi masalah ialah awalan “surr-” dalam bahasa Inggris kerapkali dihubungkan dengan awalan bahasa Latin “sub”, misalnya surreptitious (Prancis: subreptice), surrogate (Prancis: subrogé), yang justru menyiratkan kebalikan makna yang dimaksud. Breton mungkin akan mengkualifikasi definisi pertama dengan mengatakan “ketiadaan kesadaran moral atau sensor diri estetis” dan atas ijinnya melalui pengembangan lebih lanjutlah definisi-definisi tersebut mampu mengalami perluasan.

La Révolution surréaliste Tak lama setelah mengeluarkan Surealis Manifesto pertama tahun 1924, para surealis mengeluarkan edisi pertama La Révolution surréaliste yang publikasinya berlanjut hingga 1929. Pierre Naville dan Benjamin Péret adalah direktur-direktur pertama yang mempublikasi dan membentuk format jurnal pada review ilmiah konservatif La Nature. Formatnya sangat menipu dan demi kesenangan para surealis, La Révolution surréaliste adalah jurnal yang revolusioner dan penuh skandal. Jurnal tersebut berisi tulisan dan sebagian besar halaman penuh dengan kolom teks. Jurnal tersebut juga berisi reproduksi seni, di antaranya karya Giorgio de Chirico, Max Ernst, André Masson dan Man Ray.

Biro Penelitian Surealis Biro Penelitian Surealis (Centrale Surréaliste) yang berada di Paris merupakan tempat pertemuan para penulis dan seniman surealis, sekaligus tempat diskusi dan penyelenggaraan wawancara yang bertujuan menelisik ucapan di bawah kondisi tak sadar.

Ekspansi Gerakan yang muncul di pertengahan tahun 1920an ini dicirikan oleh pertemuan di kafe dimana para surealis melukis bersama dan berdiskusi tentang teori-teori Surealisme. Para surealis mengembangkan teknik yang mirip dengan lukisan otomatis. Breton awalnya ragu bahwa seni visual berguna bagi gerakan Surealis karena tampilan mereka yang kurang fleksibel dan terbuka pada kemungkinan (chance) dan otomatisme. Kekhawatiran ini hilang seiring dengan ditemukannya teknik-teknik seperti frottage dan decalcomania. Tak lama kemudian, banyak seniman visual yang bergabung seperti Giorgio de Chirico, Salvador Dalí, Enrico Donati, Alberto Giacometti, Valentine Hugo, Méret Oppenheim, Toyen, Grégoire Michonze, dan Luis Buñuel. Meskipun Breton memuja Pablo Picasso dan Marcel Duchamp serta telah mengajak mereka bergabung, dua seniman itu tetap enggan menjadi anggota.

Banyak penulis yang bergabung, antara lain Tristan Tzara—yang sebelumnya adalah pemimpin gerakan Dadaisme—René Char, Georges Sadoul, André Thirion dan Maurice Heine. Tahun 1925 sebuah kelompok surealis otonom di Brussels diresmikan tahun 1926. Kelompok tersebut mencakup para musisi, penyair dan seniman E.L.T Messens, pelukis sekaligus penulis René Magritte, Paul Nougé, Marcel Lecomte, Camille Goemans, dan André Souris. Tahun 1927 Louis Scutenaire turut bergabung. Mereka secara teratur berhubungan dengan kelompok di Paris dan pada tahun 1927 Goemans dan Magritte pindah ke Paris mengunjungi kelompok Breton.

Para seniman, selain berakar pada aliran Dadaisme dan Kubisme, abstraksi Wassily Kandinsky, Ekspresionisme dan Post-Impresionisme, juga mengacu pada aliran lebih tua seperti milik Hieronymus Bosch serta seni-seni primitif dan naïf. Lukisan otomatis tahun 1923 milik André Masson sering dipakai sebagai titik penerimaan seni visual serta pemberontakan pada Dadaisme. Hal ini dikarenakan lukisan tersebut merefleksikan pengaruh pikiran tak sadar. Contoh lain adalah Torso, karya Alberto Giacometti tahun 1925, yang menandai perpindahan ke bentuk-bentuk sederhana dan inspirasi dari figur pra-klasik.

Contoh menarik yang digunakan untuk membedakan Dadaisme dan Surealisme di antara para ahli seni ialah Little Machine (1925) karya Minimax Dadamax (Von minimax dadamax selbst konstruiertes maschinchen) dan The Kiss (Le Baiser) tahun 1927 karya Ernst. Lukisan pertama mencerminkan jarak dan nuansa erotik sedangkan lukisan ke dua menunjukkan erotisme secara langsung dan terbuka. Pengaruh Miró dan gaya lukis Picasso terlihat sekali pada lukisan ke dua dengan adanya lekukan tegas serta garis dan warna yang saling-silang. Kesan langsung pada lukisan pertama nantinya akan sangat mempengaruhi seni Pop Art.

Giorgio de Chirico, The Red Tower (La Tour Rouge) 1913 Giorgio de Chirico—sebelumnya mengembangkan seni metafisika—adalah salah satu tokoh penting filsafat dan seni visual Surealisme. Sekitar tahun 1911 hingga 1917, dia mengadopsi gaya lukisan sederhana yang nantinya ditiru banyak seniman. The Red Tower (La tour rouge) tahun 1913 memiliki kontras warna kaku dan gaya ilustratif yang banyak diikuti pelukis surealis. Karyanya yang lain, The Nostalgia of the Poet (La Nostalgie du poete), tahun 1914, terkesan “jauh”. Gabungan figur kaca dan ikan sebagai pendukung menolak kesan biasa. Ia juga seorang penulis dan novelnya “Hebdomeros” berisi serial mimpi dengan penggunaan tanda baca, urutan kata, serta tata bahasa unik untuk memberikan atmosfer khusus serta bingkai imajiner (frame) di sekitar gambaran yang dibuat. Gambaran-gambaran itu, termasuk desain untuk Ballets Russes, menciptakan bentuk dekoratif Surealisme visual. De Chirico merupakan tokoh yang gayanya mempengaruhi dua seniman lain—yang lebih dikenal sebagai surealis daripada dirinya sendiri—yakni Salvador Dalí dan Magritte. Dia meninggalkan kelompok surealis tahun 1928. Tahun 1924, Miro dan Masson mengaplikasikan teori Surealisme pada lukisan secara eksplisit di acara pameran La Peinture Surrealiste. Breton mempublikasikan “Surealisme dan Lukisan” tahun 1928 yang berisi rangkuman kegiatan kelompoknya. Dia terus memperbaharui karya itu hingga 1960an.

Pameran Besar 1925 - La Peinture Surrealiste – pameran surealis pertama yang diadakan di Gallerie Pierre di Paris. Lukisan yang dipamerkan merupakan karya Masson, Man Ray, Klee, Miró, dan sebagainya. Pertunjukan itu menegaskan bahwa Surealisme memiliki komponen seni visual dan teknik Dadaisme, misalnya pemakaian foto montase. Galerie Surréaliste dbuka 26 Maret 1926 dengan pameran karya Man Ray.

Tulisan Karya surealis pertama, menurut Breton, adalah Magnetic Field (Les Champs Magnétiques) tahun 1921. Namun jauh sebelumnya, tahun 1919, Littérature berisikan karya-karya otomatis serta yang berhubungan dengan mimpi. Majalah dan portofolio menunjukkan ketidaksukaan mereka pada makna harfiah yang diberikan pada obyek. Mereka lebih berfokus pada simbol dan kesan puitis. Tak hanya memberi penekanan pada kesan puitis, mereka juga menekankan konotasi dan nuansa yang tampil dalam hubungan ambigu pada karya visual.

Karena para penulis surealis, jika pun pernah, jarang merencanakan apa yang akan mereka buat, orang-orang kerap kesulitan menangkap maksud mereka. Ide ini merupakan pemahaman superfisial yang dicetuskan dengan penekanan Breton pada penulisan otomatis sebagai jalur utama menuju realitas lebih tinggi. Namun, seperti kasus yang dialami Breton sendiri, banyak karya yang disebut murni otomatis rupanya telah disunting dan bersifat sangat “direncanakan”. Breton sendiri kemudian mengakui bahwa inti penulisan otomatis memang dilebih-lebihkan. Elemen lain diperkenalkan, khususnya sebagai ketercakupan seniman visual yang tumbuh, menekan isu tersebut karena lukisan otomatis membutuhkan pendekatan-pendekatan yang lebih serius. Kemudian kolase dikenalkan—muncul sebagian dari prinsip peletakan tak biasa sebagaimana diungkap dalam puisi Pierre Reverdy. Dan, seperti kasus Magritte dimana tidak ada pilihan jelas baik pada teknik otomatis atau kolase, ide penggabungan kuat menjadi alat kejut di dalam dan dari ide itu sendiri. Surrealisme ditakdirkan untuk selalu berubah—menjadi lebih modern dari yang modern—sehingga wajar jika harus selalu ada perubahan pemikiran tiap kali muncul tantangan baru.

Para surealis memperbaharui daya tarik Isidore Ducasse—yang dikenal dengan nama samaran “Le Comte de Lautréamont” dan larik “seindah pertemuan tak sengaja dari meja pemisah mesin jahit dan payung”—dan Arthur Rimbaud. Dua penulis akhir abad 19 itu diyakini sebagai pionir Surealisme. Contoh karya sastra beraliran surealisme adalah Mr. Knife Miss Fork karya Crevel (1931), Irene's Cunt karya Aragon (1927), Sur la route de San Romano karya Breton (1948), Death to the Pigs karya Peret (1929), dan Le Pese-Nerfs karya Artaud (1926). La Révolution surréaliste melanjutkan publikasi hingga 1929 dengan sebagian besar halaman penuh kolom teks serta reproduksi karya seni de Chirico, Ernst, Masson, dan Man Ray. Karya-karya lain meliputi buku, puisi, pamphlet, tulisan otomatis, dan artikel teoritis.

Film-Film Surealis Film-film karya para surealis terdahulu antara lain: Entr'acte karya René Clair (1924) La Coquille et le clergyman karya Germaine Dulac, screenplay karya Antonin Artaud (1927) Un chien andalou karya Luis Buñuel dan Salvador Dalí (1928) L'Étoile de mer karya Man Ray (1928) L'Âge d'Or karya Luis Buñuel dan Salvador Dalí (1930) Le sang d'un poète karya Jean Cocteau (1930)

Musik Surealis Di tahun 1920an, beberapa komponis mendapat pengaruh surealisme atau individu yang terlibat dalam gerakan surealis. Di antaranya adalah Bohuslav Martinů, André Souris, dan Edgard Varèse—yang mengaku mendapatkan inspirasi karyanya “Arcana” dari mimpi. Souris secara khusus tergabung dengang gerakan tersebut. Dia memiliki hubungan dekat dengan Magritte dan bekerja di penerbitan Adieu Marie milik Paul Nouge.

Germaine Tailleferre dari kelompok Prancis Les Six menulis beberapa karya (opera) yang dianggap mendapat pengaruh Surealisme, meliputi Ballet Paris-Magie (1948) (skenario oleh Lise Deharme), Operas La Petite Sirène (dari buku karangan Philippe Soupault) dan Le Maître (buku karangan Eugène Ionesco). Tailleferre juga membuat lagu populer yang liriknya ditulis oleh Claude Marci, istri Henri Jeanson yang fotonya dilukis oleh Magritte tahun 1930an.

Meskipun menjelang 1946 Breton menunjukkan respon negatif pada musik dalam esainya “Silence is Golden”, para surealis terlanjur tertarik—dan menemukan kesamaan—pada surealisme dalam improvisasi jazz dan blues. Para surealis seperti Paul Garon telah menulis artikel-artikel dan buku-buku tebal mengenai hal tersebut namun musisi jazz dan blues jarang merespon ketertarikan mereka. Tahun 1976, misalnya, Pameran Surealis Dunia mengikutsertakan penampilan Honeyboy Edwards.

Surealisme dan Politik Internasional Perkembangan surealisme mencakup ranah yang berbeda-beda di seluruh dunia. Di sebagian tempat penekanan diberikan pada praktek-praktek artistik, di tempat lain surealisme masuk dalam dunia politik, dan di tempat lainnya lagi praksis surealis tumbuh di dunia seni dan politik. Selama tahun 1930an ide surealis menyebar dari Eropa ke Amerika Utara, Amerika Selatan, Amerika Tengah, Karibia, dan Asia; sebagai ide artistik dan ideologi perubahan politik.

Secara politis, Surealisme bersifat ultra-kiri, komunis, atau anarkis. Pemisahan dirinya dari Dadaisme dianggap sebagai pemisahan antara anarkis dan komunis, dimana Surealis berperan sebagai komunis. Breton dan rekan-rekan mendukung Leon Trotsky dan Oposisi Kiri Internasionalnya meskipun anarkisme lebih mungkin berkembang pesat setelah Perang Dunia II. Beberapa surealis seperti Benjamin Peret sejajar dengan tipe komunis kiri. Dali mendukung kapitalisme dan kediktatoran fasis Francisco Franco dan oleh sebab itulah Breton dan rekan-rekannya menyebut Dali telah berkhianat dan meninggalkan faham Surealisme. Para pengikut Breton bersama dengan Partai Komunis bekerja untuk “kebebasan masyarakat”. Kelompok Breton menolak mendukung perlawanan proletar melalui kreasi radikal seperti perlawanan mereka pada Partai yang didirikan akhir tahun 1920an; tahun yang penuh tantangan. Banyak individu yang berhubungan dengan Breton, khususnya Louis Aragon, meninggalkan kelompoknya demi bekerja penuh pada partai Komunis.

Para surealis sering mencari penghubung upaya mereka berkecimpung di politik. Salah satu contoh, pada “Deklarasi 27 Januari 1925”, para anggota Biro Penelitian Surealis (termasuk André Breton, Louis Aragon, Antonin Artaud, dan sekitar dua puluh empat orang lagi) mengumumkan ketertarikan mereka pada politik revolusioner. Meskipun awalnya ini adalah rumusan tak jelas, menjelang tahun 1930an banyak surealis mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan komunisme. Dokumen penting yang menjadi bukti hal ini adalah “Manifesto for a Free Revolutionary Art” yang dipublikasikan atas nama Breton dan Diego Rivera namun sebenarnya ditulis oleh Breton dan Leon Trotsky. Di tahun 1933, pernyataan surealis bahwa “karya sastra proletar” tak mungkin ada dalam masyarakat kapitalis mengakibatkan perpecahan mereka dengan Association des Ecrivains et Artistes Révolutionnaires serta dikeluarkanya Breton, Éluard dan Crevel dari Partai Komunis. Pada tahun 1925, kelompok surealis Paris dan ekstrim kiri dari Partai Komunis Prancis tiba bersama untuk mendukung Abd-el-Krim, pemimpin Rif yang melawan pendudukan Prancis di Maroko. Dalam sebuah surat terbuka pada penulis sekaligus duta besar Prancis untuk Jepang, Paul Claudel, kelompok Paris berkata: “Kami para surealis menyatakan diri kami siap membantu mengubah perang imperialis, dalam bentuk kolonial dan berkelanjutan, ke dalam perang sipil. Kami akan memberikan tenaga kami pada pelenyapan revolusi, dari proletariat dan perlawanannya, dan menandai sikap kami pada masalah kolonial dan warna kulit.”

Politik revolusioner antikolonial dan proletar "Murderous Humanitarianism" (1932) yang disusun oleh Rene Crevel, ditandatangani André Breton, Paul Éluard, Benjamin Peret, Yves Tanguy, dan surealis Martinikuan Pierre Yoyotte serta J.M. Monnerot membuat dokumen asli dari apa yang nantinya disebut “surealisme hitam” itu meski hubungan antara Aimé Césaire dan Breton pada tahun 1940an di Martiniquelah yang sebenarnya menimbulkan percakapan yang disebut “surealisme hitam”. Para penulis revolusioner anti kolonial di Gerakan Négritude Martinique, koloni Prancis saat itu, mengambil Surealisme sebgai metode revolusioner – sebuah kritik budaya dan subyektivitas radikal Eropa. Ini berhubungan dengan para surealis lain dan sangat penting untuk perkembangan lanjutan Surealisme sebagai praksis revolusioner. Jurnal Tropiques, gabungan karya Cesaire dengan René Ménil, Lucie Thésée, Aristide Maugée dan lain-lain, dipublikasikan pertama kali tahun 1940.

Menarik diketahui bahwa di tahun 1938, saat André Breton melancong bersama istrinya, Jacqueline Lamba (seorang pelukis) ke Meksiko untuk bertemu Trotsky, mereka bertamu ke rumah istri pertama Diego Rivera; Guadalupe Marin. Breton bertemu Frida Kahlo dan melihat lukisan-lukisan wanita itu untuk pertama kalinya. Breton memuji Kahlo sebagai pelukis “berjiwa” surealis.

Politik Internal Pada tahun 1929, kelompok satelit jurnal Le Grand Jeu, antara lain Roger Gilbert-Lecomte, Maurice Henry dan pelukis Czech Josef Sima dikeluarkan. Bulan Februari, di tahun yang sama, Breton meminta para surealis mengukur kompetensi moral dan perkembangan teoritis masing-masing, termasuk manifeste du surréalisme ke dua—kecuali bagi mereka yang enggan berkomitmen pada aksi kolektif: Leiris, Limbour, Morise, Baron, Queneau, Prévert, Desnos, Masson dan Boiffard. Orang-orang itu pindah ke dokumen periodik suntingan Georges Bataille yang materialisme anti idealismenya menciptakan Surealisme campuran yang mencitrakan insting dasar manusia. Anggota-anggota lain dikeluarkan atas bermacam alasan ketidakpatuhan politis atau personal sedangkan sebagian lainnya keluar untuk mengembangkan gaya mereka sendiri.

Zaman Keemasan Sepanjang 1930an, Surealisme semakin dikenal masyarakat luas. Kelompok surealis lain dikembangkan di Inggris. Menurut Breton, pameran Surealis Internasional yang dilangsungkan di London tahun 1936 adalah menjadi bukti tingginya apresiasi terhadap kelompok mereka apalagi acara tersebut kemudian dijadikan model pameran internasional. Dalí dan Magritte memberikan gambaran-gambaran paling banyak dikenal di gerakan tersebut. Dali bergabung dengan kelompok tersebut tahun 1929 dan berpartisipasi dalam perkembangan gaya visual cepat di antara tahun 1930 hingga 1935. Sebagai gerakan visual, Surealisme telah menemukan sebuah metode baru: menonjolkan kebenaran psikologis dengan menjauhkan obyek biasa dari makna sehari-hari demi menciptakan gambaran kuat yang berada di luar kebiasaan agar terlihat menarik. Tahun 1931 menandai masa titik balik evolusi gaya para surealis: Voice of Space (La Voix des airs) karya Magritte adalah salah satu contoh, dimana tiga area luas yang menunjukkan bel tergantung di atas background. Sementara itu, Promontoru Palace (Palace promontoire) karya Yves Tanguy menunjukkan tampilan mencair dan bentuk cairan. Bentuk cairan menjadi ciri karya Dali, khususnya di The Persistence of Memory yang melukiskan jam-jam mencair.

Karakteristik Gaya Kombinasi gaya ilustratif, abstrak, dan psikologis muncul untuk menghadapi pengasingan yang dirasakan oleh banyak orang di zaman modern digabung dengan penyelaman lebih dalam ke dunia psikis agar “menyatu dengan individualitas”. Tahun 1936 sampai 1938 Wolfgang Paalen, Gordon Onslow Ford dan Roberto Matta bergabung dengan kelompok. Bersama Fumage dan Onslow Ford Coulage, Paalen mengenalkan teknik melukis otomatis baru. Lama sesudah berbagai persoalan memecah-belah kelompok, Magritte dan Dali membuat program visual seni. Program ini berkembang hingga keluar seni lukis, merambah dunia fotografi sebagaimana dapat dilihat pada foto diri Man Ray yang mengilhami kolase Robert Rauschenberg. Selama tahun 1930an Peggy Guggenheim, kolektor seni terkenal Amerika, menikah dengan Max Ernst dan mulai mempromosikan karya surealis lain seperti Tanguy dan seniman Inggris, John Tunnard.

Pameran Besar Tahun 1930an 1936 – Pameran Surealis Internasional London diadakan di London oleh sejarahwan seni Herbert Read, dan dibuka oleh by André Breton. 1936 - Museum Seni Modern di New York membuat pameran beraliran seni fantastik, Dadaisme dan Surealisme. 1938 – Pameran Surealis Internasional baru diadakan di Beaux-arts Gallery, Paris, dengan lebih dari 60 seniman dari berbagai negara dan memamerkan sekitar 300 lukisan, obyek, kolase, foto, dan instalasi. Para surealis ingin mengundang Marcel Duchamp untuk melakukan sesuatu yang kreatif di pameran. Dia menempatkan Rainy Taxi karya Dali di intu masuk pameran (lukisan taksi tua yang diperbaiki untuk menciptakan gerimis di dalam jendela dengan sopir berkepala hiu dan manekin berambut pirang merangkak dengan siput di punggung). Di salah satu lobi, para surealis meletakkan manekin diri mereka. Dia juga mendesain ruang utama hingga tampak sepeeti gua tak berujung dengan 1200 tas penambang batu bara menggantung dari langit-langit di atas keranjang batubara dengan bohlam tunggal yang menjadi satu-satunya penerang. Para patron memegang senter yang digunakan untuk melihat lukisan. Lantai dipenuhi dedaunan, cabang dan rumput kering serta aroma biji kopi sangrai. Keberhasilan para surealis dalam pameran ini cukup mengejutkan para penonton.

Perang Dunia II dan Masa Pasca Perang Perang Dunia II tidak hanya menciptakan kekacauan di masyarakat Eropa tapi juga pada para seniman dan penulis Eropa yang menentang Fascisme dan Nazisme. Banyak seniman penting yang melarikan diri ke Amerika Utara dan Amerika Serikat. Komunitas seni di New York City pun telah berjuang dengan ide Surealisme. Beberapa seniman seperti Arshile Gorky, Jackson Pollock, Robert Motherwell dan Roberto Matta bergabung dengan para seniman surealis meskipun disertai dengan kecurigaan dan keraguan. Ide tentang citraan mimpi dan alam bawah sadar dapat diterima dengan baik. Menjelang Perang Dunia II, seni avant-grade Amerika maju pesat melebihi Abstrak Ekpresionisme dengan dukungan para pencipta selera kunci: Peggy Guggenheim, Leo Steinberg dan Clement Greenberg. Padahal Abstrak Ekspresionisme itu sendiri lahir dari pertemuan seniman Amerika (khususnya dari New York) dan para surealis Eropa yang mengasingkan diri selama PD II. Arshile Gorky dan Wolfgang Paalen mengilhami perkembangan jenis seni Amerika ini yang mengunggulkan tindakan langsung sebagai sumber kreatifitas. Banyak karya awal Abstrak Ekspresionisme yang mengungkap ikatan erat aspek superfisial pada kedua gerakan dan kemunculan aspek humor Dadaistik pada artis macam Rauschenberg makin memperjelas hubungan itu. Hingga kelahiran Pop Art, surealisme merupakan satu-satunya pengaruh penting bagi perkembangan seni Amerika yang tiba-tiba. Bahkan dalam Pop Art, beberapa humor dalam Surealisme kerap dijadikan kritik budaya. Perang Dunia II membayangi hampir semua produksi intelektual dan artistik. Tahun 1940, Yves Tanguy menikahi pelukis surealis Amerika Kay Sage. Di tahun 1941, Breton pergi ke AS dan mendirikan majalah VVV—yang berumur pendek—bersama Max Ernst, Marcel Duchamp, dan seniman Amerika, David Hare. Atas jasa Charles Henri Ford, seorang penyair Amerika, Breton berkesempatan mempromosikan surealisme melalui majalah View di A.S. Isu tentang Duchamp dianggap penting bagi pemahaman publik Amerika mengenai Surealisme. Isu tersebut menekankan hubungan Duchamp dengan metode surealis dan interpretasi karyanya oleh Breton serta pendapat Breton bahwa Duchamp menjembatani gerakan modern terdahulu seperti Futurisme dan Kubisme dengan Surealisme. Wolfgang Paalen keluar dari gerakan modern pada tahun 1942 karena perbedaan pandangan politik/filosofis dengan Breton dan mendirikan jurnal Dyn.

Meskipun perang sangat mengganggu perkembangan Surealisme, kerja tetap dilanjutkan. Para surealis, termasuk Magritte, terus mengeksplorasi diri. Banyak anggota gerakan surealis yang masih saling berhubungan dan bertemu. Meskipun tak lagi berhubungan dengan Breton, Dali tidak mengubah gaya 1930an-nya ataupun menjadi pengikut gaya ilustratif, termasuk yang terlihat di “persistence of time”. Periode keemasannya tidak menunjukkan upaya pemisahan dengan masa lalu sebagaimana terlihat dari karya-karyanya. Thirion bahkan mengatakan Dali tak memiliki karya surealis setelah masa itu.

Selama tahun 1940an, pengaruh Surealisme juga terasa di Inggris dan Amerika. Mark Rothko tertarik pada gambar biomorfik sementara di Inggris, Henry Moore, Lucian Freud, Francis Bacon dan Paul Nash mencoba atau menggunakan teknik-teknik surealis. Conroy Maddox, salah satu surealis Inggris yang berkarya sejak tahun 1935, tetap bertahan pada gerakan. Dia menyelenggarakan pameran tahun 1978 sehubungan dengan ketidakpuasannya pada pameran sebelumnya yang dianggap tidak sepenuhnya mencerminkan Surealisme. Pameran yang diadakan Maddox di Paris, menurut Surrealism Unlimited, berhasil menarik perhatian dunia. Dia mengadakan pameran tahun 2002 dan meninggal tiga tahun setelahnya. Karya-karya Magritte menjadi lebih realistik dalam pencitraan obyek namun tetap mempertahankan kombinasi elemen seperti yang terlihat pada Personal Values (Les Valeurs Personneles) (1951) dan Empire of Light (L’Empire des lumières) (1954). Magritte terus membuat karya artistik seperti, Castle in the Pyrenees (La Chateau des Pyrenees) yang mirip Voix from 1931, dalam penyajian background. Seniman surealis lain didiskualifikasikan. Beberapa artis, seperti Roberto Matta mengatakan sendiri bahwa gaya masih “dekat” dengan Surealisme. Banyak seniman lain mendiskualifikasikan dirinya sendiri dari gerakan. Dorothea Tanning dan Louise Bourgeois terus berkarya dan menghasilkan Rainy Day Canape (1970). Diam-diam Duchamp terus berkarya. Salah satu hasil karyanya adalah lukisan realistik seorang wanita yang hanya bisa dilihat melalui lubang kecil. Breton terus menulis dan mendukung kebebasan pikiran manusia dengan mempublikasikan The Tower of Light (1952). Breton kembali ke Prancis setelah perang dan memulai fase baru kegiatan surealis di Paris. Kritiknya pada rasionalisme dan dualisme menarik beberapa pengikut baru. Dia menekankan bahwa surealisme adalah pemberontakan melawan hilangnya rasa persaudaraan, simbol keagamaan dan penderitaaan serta menunjukkan pentingnya kebebasan berpikir.

Pameran Besar tahun 1940an, 50an, dan 60an 1942 – Makalah pertama tentang Surealisme - New York – Para surealis lagi-lagi meminta Duchamp mendesain pameran. Kali ini dia membuat jaring tiga dimensi dari benang yang memenuhi ruang pameran hingga sedikit menyulitkan penonton melihat karya-karya yang dipamerkan. Dia mendatangkan selusin anak berpakaian atlet – teman-teman salah satu anak rekannya – dan meminta mereka menendang dan melempar bola serta berlompat tali saat para patron memasuki ruang pada acara pembukaan. Desain katalognya menyertakan foto-foto para seniman yang tergolong “alami” (bukan pose). 1947 – Pameran Surealis Internasional - Paris 1959 - Pameran Surealis Internasional - Paris 1960 – Invasi Surealis di Ranah Pemantra - New York

Surealisme Pasca Breton Roberto Matta. Elle Loge La Folie, minyak di atas kanvas, 1970. Tidak ada kesepakatan yang menyebutkan kapan Surealisme atau gerakan surealisme berakhir. Beberapa sejarawan sejarah mengatakan bahwa PD II secara otomatis memecah gerakan itu. Di sisi lain, Sarane Alexandrian (1970) mengatakan bahwa “kematian André Breton di tahun 1966 menandai berakhirnya surealisme sebagai gerakan terorganisir.” Ada pula yang mencoba mengaitkan bubarnya gerakan tersebut dengan kematian Salvador Dalí tahun 1989. Tahun 1960an, seniman avant-grade berkumpul di sekitar Parisian Situationist yang berhubungan erat dengan Surealisme. Sementara jajaran ketua – khususnya Guy Debord sangat kritis dan menjauhkan diri dari Surealisme, pemimpin lain seperti Asger Jorn secara eksplisit menggunakan teknik dan metode surealis. Demonstrasi umum dan pemberontakan siswa di Prancis tahun 1968 melibatkan sejumlah ide surealis, di antaranya adalah slogan yang dibuat di dinding-dinding Sorbonne. Joan Miró mengabadikan kejadian tersebut dalam lukisan berjudl May 1968. Ada beberapa kelompok yang dituduh berkaitan dengan dua kejadian itu namun tuduhan lebih banyak ditujukan pada Kelompok Surealisme Revolusioner.

Sejak tahun 1960an, seniman di Eropa dan seluruh dunia telah menggabungkan Surealisme dengan mischtechnik (teknik klasik abad 16), yakni campuran tempera (campuran air dan materi berwarna) telur dan lukisan minyak yang ditemukan kembali oleh Ernst Fuchs, Dali kontemporer. Teknik tersebut sekarang memiliki banyak pengikut antara lain Robert Venosa dan Chris Mars yang menggelar pameran di museum-museum besar. Penjaga Museum Seni Modern San Francisco terdahulu, Michael Bell, menyebut gaya surealisme ini sebagai surealisme veristik. Surealisme veristik adalah lukisan dengan kejelasan hati-hati dan sangat detil dalam menggambarkan dunia mimpi. Seniman tempera lain seperti Robert Vickery membuat lukisan surealis dengan teratur. Selama tahun 1980an, di Tirai Besi, Surealisme masuk dunia politik sebagai gerakan oposisi artistik bawah tanah bernama Orange Alternative. Gerakan ini diciptakan tahun 1981 oleh Waldemar Fydrych (alias “Walikota”), seorang lulusan ilmu sejarah dan sejarah seni di Universitas Wrocław. Gerakan ini memakai simbol dan terminology surealis dalam berbagai peristiwa besar yang terjadi di kota-kota besar di Polandia selama rezim Jaruzelski. Mereka juga membuat graffiti surealis di jalan, menutupi slogan-slogan anti rezim. “Walikota” sendiri adalah penulis “Manifesto of Socialist Surrealism”. Dalam manifesto itu disebutkan bahwa sistem sosialis (komunis) telah menjadi sangat surealistik seingga tampak sebagai suatu ekspresi seni. Seni surealis tetap populer dengan adanya patron museum. Museum Guggenheim di New York City mengadakan pameran bertajuk Two Private Eyes tahun 1999. Tahun 2001 Tate Modern mengadakan pameran surealis yang dikunjungi lebih dari 170.000 pengunjung. Tahun 2002 Museum Metropolitan di New York City menampilkan pertunjukan blockbuster “Desire Unbound” sementara Georges Pompidou Pusat di Paris menyelenggarakan pertunjukan La Révolution surréaliste. Perkembangan modern ini dikenal sebagai Massurealisme.

Dampak Surealisme Surealisme memiliki pengaruh di banyak bidang. Dalam hal ini, Surealisme tidak hanya mengacu secara khusus pada pihak yang menyebut diri mereka “surealis” atau yang disebut Breton demikian melainkan pada bermacam tindakan permberontakan dan usaha kreatif membebaskan imajinasi. Di samping didasarkan pada pemikiran Hegel, Marx dan Freud, surealisme dianggap cukup dinamis dan dialektikal bagi para pendukungnya.

Para surealis juga menggunakan sumber-sumber berbeda, misalnya, Clark Ashton Smith, Montague Summers, Horace Walpole, Fantomas, The Residents, Bugs Bunny, buku komik, penyair Samuel Greenberg dan penulis petualang sekaligus komedian T-Bone Slim. Kemungkinan pecahan surealis dapat ditemukan di gerakan-gerakan seperti Free Jazz (Don Cherry, Sun Ra, Cecil Taylor dsb.) bahkan pada kehidupan sehari-hari dimana oerang menolak pembatasan aspek sosial. Sebagai gerakan yang menggunakan pikiran sebagai alat pembebas imajinasi untuk melawan pikiran umum, Surealisme memiliki banyak pendahulu: Dante, Hieronymus Bosch, Marquis de Sade, Charles Fourier, Comte de Lautreamont dan Arthur Rimbaud.

Para surealis yakin bahwa budaya non-Eropa juga dapat menginspirasi gerakan ini karena beberapa di antaranya mungkin telah menggunakan keseimbangan lebih baik antara nalar instrumental dan imajinasi daripada budaya Eropa. Surealisme memiliki dampak pada politik radikal dan revolusioner, baik langsung—beberapa surealis menggabungkan diri dengan partai, gerakan dan kelompok politik radikal—dan tak langsung—melalui penekanan pada hubungan antara pembebasan imajinasi dan pikiran serta kemerdekaan dari strata sosial arkaik dan menekan. Hal ini tampak khususnya dalam Gerakan Kiri Baru tahun 1960an dan 1970an serta pemberontakan Prancis Mei 1968 dengan slogan “Kekuatan untuk imajinasi” yang muncul langsung dari pikiran dan praktek surealis Prancis.

Banyak gerakan kesustraan penting di paruh abad 20 secara langsung dan tak langsung dipengaruhi ide surealisme. Periode ini dikenal sebagai era postmodern. Meskipun tidak ada definisi dasar untuk postmodernisme, banyak tema dan teknik postmodernis yang mirip dengan surealis. Kemungkinan para penulis era postmodern yang memiliki gaya mirip surealis adalah para penulis drama di Theatre of the Absurd. Meskipun bukan gerakan terorganisir, kelompok drama ini memiliki banyak kesamaan (dalam tema dan teknik) dengan surealisme sehingga wajar jika mereka disebut mendapat pengaruh dari gerakan tersebut.

Eugene Lonesco secara khusus memuji Surealisme. Dia menyebut Breton sebagai salah satu pemikir penting dalam sejarah. Samuel Beckett juga penggemar surealisme bahkan dia sering menerjemahkan puisi surealis ke dalam Bahasa Inggris. Beckett memiliki hubungan dekat dengan mentor sekaligus rekannya, James Joyce. Banyak penulis yang memiliki hubungan dengan serta berasal dari Beat Generation terkena pengaruh surealis. Philip Lamantia dan Ted Joans sering dikelompokkan sebgai penulis surealis dan Beat. Banyak penulis Beat yang menyebut surealisme memberikan pengaruh penting.

Beberapa contoh adalah Bob Kaufman, Gregory Corso dan Allen Ginsberg. Dalam budaya populer, penulisan lirik bergaya stream of consciousness dari Bob Dylan (1960an dan 1980an-2006) memiliki hubungan dan citra surealisme. Realisme Magis (Magic Realism), teknik penulisan populer di paruh abad 20an—khususnya digunakan oleh para penulis Amerika Latin—menunjukkan pengaruh surealisme dengan adanya kombinasi pengalaman normal dan dunia mimpi. Kepopuleran Realisme Magis di ranah kesusteraan Amerika Latin tertutupi oleh pengaruh surealisme dari para pelukis Amerika Latin sendiri, misalnya Frida Kahlo.

Kelompok Surealis Silakan kembangkan tulisan ini dengan memperluas seksi ini. Lihat halaman tanya jawab untuk lebih jelasnya. Hapus pesan ini begitu seksi ini telah dikembangkan. Informasi lebih jelas, lihat Kategori: Kelompok Surealis Surealis dan Kelompok Surealis telah berusaha melanjutkan surealisme sepeninggal Andre Breton tahun 1966. Kelompok Surealis Prancis dipecah oleh seorang anggota, Jean Schuster, tahun 1969.

Surealisme dan Teater Teater surealis menggambarkan pengalaman bawah sadar, temperamental, tidak terstruktur, dan kadang memaksakan kesatuan ide. Antonin Artaud, salah satu surealis, menyebut teater Barat adalah wujud kesalahan persepsi atas tujuan teater sesungguhnya. Menurut Artaud, teater sesungguhnya haruslah bersifat mistis dan relijius. Dia beranggapan bahwa teater Barat mengandung “ilusi dan kesalahan” yang buruk. Artaud ingin menciptakan bentuk teater baru yang dapat dipahami dengan baik, yang menghubungkan pikiran bawah sadar aktor dan penonton dan menjadikannya sebagai sebuah ritual. Maka muncullah Teater Absurd (The Theatre of The Absurd) yang diilhami dari film dan komedi bisu serta tradisi omong kosong pada film bersuara terdahulu (Laurel dan Hardy, W. C. Fields, Marx Bersaudara). Teater Absurd menghadirkan nuansa ritual, mitologis, kuno, simbolis, dan tentunya berhubungan dengan dunia mimpi.

Di masa sekarang, teater surealis mulai menggabungkan musik, kata-kata, dan gerakan. Sebagian besar ditampilkan oleh Peter Dizozza di La MaMa, E.T.C. Experiments Reading Series di Manhattan. Dia juga sering memproduksi teater di Pusat Sejarah dan Seni Williamsburg di Brooklyn. Karya-karya Dizozza meliputi “The Marriage at the Statue of Liberty” (setelah Cocteau), “The Last Dodo”, “The Golf Wars”, "The Eleventh Hour," "Hermaphroditism Through the Ages" dan “Prepare to Meet Your Maker” yang terinspirasi dari drama misteri relijius abad 16an tentang pertemuan mayat cantik, Cementeria, dengan penggali kubur, Quasimodo—keduanya kemudian hidup kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar